Dapur 6 Kembali Jadi Titik Bongkar Barang Ilegal: Bea Cukai Batam Didesak Bertindak Tegas

 

Foto lokasi yang diduga menjadi gudang di Kelurahan Tembesi 

BATAM, TERBITBERITA.COM  Praktik penyelundupan barang di Batam tidak hanya belum berhenti. Aktivitasnya justru makin terstruktur, masif, dan terang-terangan lewat jalur "pelabuhan tikus".


Tim investigasi memergoki langsung operasional ini pada Kamis malam, 16 Juli 2026, di sebuah gudang besar kawasan Top 100, Tembesi, Sagulung. 


Di lokasi, ratusan bungkusan barang terlihat dipindahkan ke truk box putih tanpa satupun petugas Bea Cukai Batam yang melakukan pengecekan. Tidak ada segel, tidak ada manifest, tidak ada pengawasan.


Dari Gudang ke Pesisir Tanpa Hambatan


Alih-alih menuju pelabuhan resmi, konvoi truk justru mengambil jalur kecil dan berhenti di pesisir Sembulang, Dapur 6, Barelang. Di titik itu barang diturunkan dan langsung dimuat ke kapal feri KM Leffindo Jaya 10.


Ini bukan kapal baru. Kapal yang sama pernah diamankan Satgas Bea Cukai di Selat Nenek pada September 2025 karena kedapatan mengangkut barang tanpa dokumen.


Di lokasi, koordinator lapangan berinisial AS mengaku sebagai sopir PT LJL. Ia menyebut aktivitas ini sudah rutin dan diarahkan oleh pemilik usaha logistik berinisial TO yang dikenal luas di Kepri. AS juga menyebut salah satu perusahaan ekspedisi besar sebagai pemilik barang dengan tujuan akhir Pekanbaru.


Semua barang yang dimuat dipastikan tidak memiliki dokumen kepabeanan dan tidak membayar pajak. Isinya: elektronik, tekstil, hingga paket ekspedisi.


Ada "Pelindung"?


Yang lebih mengkhawatirkan, beredar dugaan kuat adanya oknum yang "memelihara" jaringan ini melalui setoran. Aktivitas disebut dikendalikan oleh sosok berinisial A yang selama ini dikenal memiliki jaringan di Batam dan Tanjungpinang.


Pemanfaatan status Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas atau FTZ masih menjadi celah utama untuk menghindari pajak saat barang keluar ke wilayah pabean lain di Indonesia.


Pertanyaan untuk Bea Cukai Batam


Peristiwa ini membuka kembali luka lama: lemahnya pengawasan di titik-titik rawan. Jika ratusan koli bisa keluar dari gudang di Tembesi, melintas, lalu dibongkar di pesisir Dapur 6 tanpa gangguan, di mana fungsi kontrol dan patroli Bea Cukai Batam?


Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Bea Cukai Batam maupun Polair terkait pembongkaran di pesisir Dapur 6. Media masih berupaya mengonfirmasi ke Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Batam, Agung Widodo.


Publik berhak tahu. Negara dirugikan. Dan jika ini dibiarkan, "pelabuhan tikus" tidak akan pernah mati. Bea Cukai Batam tidak bisa lagi hanya menunggu laporan. Sudah waktunya turun, mengusut, dan menindak jaringan yang makin berani ini. (*)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *